Sabtu, Januari 30, 2016

Budget Travel : Alsace Wine Route

Alsace adalah nama sebuah provinsi di Perancis bagian Timur yang berbatasan langsung dengan Jerman. Sejarah masa lalunya cukup panjang, pernah dikuasai Jerman lalu diambil alih oleh Perancis. Walaupun penduduknya merasa sangat Perancis daripada Jerman, tapi makanan dan arsitektur di kota ini mirip banget dengan Jerman.

Alsace terkenal ke seluruh dunia sebagai penghasil anggur dan banyak turis datang ke sini khusus untuk wisata kuliner minum anggur, mereka datang dari satu kota ke kota lain untuk wine tasting . Rute kunjungan ini terkenal sebagai Alsace wine route atau Alsatian vineyard route.

Gue traveling di sepanjang rute ini dengan naik mobil, tujuan kami bukan untuk icip-icip wine (maklum lidah Jowo ngga doyan alkohol) tapi lebih untuk mengunjungi kota-kota kecil yang cantik sepanjang jalan.

Kami memulai perjalanan dari Strasbourg (ibukota Alsace) menuju arah Selatan, keinginan hati ingin mengunjungi semua kota-kota yang ada di peta tapi yang terealisasi cuma Obernai, Chateau du Haut-Koenigsbourg, Ribeauville dan Colmar.  Total perjalanan 3 hari 2 malam, berikut ini cerita kunjungan kami.



Day 1 : STRASBOURG


Petite France dilihat dari Barage Vaubhan

Strasbourg adalah ibukota provinsi Alsace dan terkenal bukan saja karena keindahan kota tuanya (yang bernama Petite France), canal tournya, atau kulinernya tapi juga karena di kota inilah terletak gedung kantor Parlemen Uni Eropa. Jadi secara politis kota ini merupakan kota yang sangat penting di Eropa.

Gue hanya memiliki waktu satu hari saja disini sehingga gue usahakan untuk bisa jalan-jalan dan menikmati kota ini semaksimal mungkin.

Alat transportasi yang kami gunakan adalah trem, kami membeli tiket trem 24H- Trio seharga 6,80 Euro yang berlaku 24 jam untuk max 3 orang.

Berikut rute jalan-jalan kami :

10.00-14.00

Dari hotel kami jalan kaki ke Barrage Vaubhan, semacam benteng di atas air. Dari atas benteng ini kita bisa melihat kawasan Petite France dengan bangunan-bangunan 'half timbered' dan menara gereja di kejauhan, di area ini kami menghabiskan waktu cukup lama, jalan-jalan santai sambil foto sana sini. Buat turis yang males jalan dan mau melihat-lihat kota ini dengan naik boat, ada Canal Tour yang cukup terkenal yang start-nya dari tempat ini.
Akhirnya kami ketemu Cathedral Notre Dame Strasbourg dan duduk-duduk sambil buka bekal makan siang di halaman sampingnya.


Atas : Barrack Vaubhan dan Deretan rumah-rumah cantik di Petite France 
Bawah : Cathedral Notre Dame Strasbourg dan makanan khas Flammekueches 


14.00 - 15.00
Dari sana kami mampir ke Flam's restoran untuk mencoba makanan khas Alsace bernama flammekueches. Sejenis pizza versi tipker (tipis kering).

(Alamat : 29 Rue des Frères, 67000 Strasbourg, France).
Menurut gue rasanya estede alias standard alias B alias Biasa aja.

Sesudah perut kenyang kami siap jalan-jalan lagi, tujuan selanjutnya : Parc de L'Orangerie. Karena lokasinya lumayan jauh dan ngga mungkin jalan kaki. Kami naik trem dari stasiun Galia.. Tremnya nyaman, bersih dan announcer-nya suara anak kecil Perancis yang lucu dan menggemaskan.

Oiya, di Stasiun Galia gue melihat ada gereja cakep di seberang sungai.

15.00-17.00
Berada di Parc L'Orangerie adalah serasa menemukan oasis sesudah seharian gue berada diantara keruwetan aneka jenis turis di kota tua Strasbourg. Parc L'Orangerie adalah taman yang terawat dengan bunga aneka warna khas taman-taman di Perancis, tentunya dengan air mancur di tengahnya., lokasinya berada di belakang sebuah gedung bernama Pavillon Joséphine. Yang unik, di setiap cerobong asap gedung ini ada sarang burung bangaunya. Belakangan gue baru memperhatikan kalau ini adalah ciri khas daerah Alsace, dimana ada cerobong asap disitu bangau bersarang.

Station trem terdekat : Droit de L'Homme.

Parc L'Orangerie , Atas : Pavilion Josephine dan sarang burung bangau
Bawah : taman bunga dan kolam air mancur
17.00-20.00
Sesudah puas duduk-duduk di taman kami segera kembali ke stasiun tram. Tujuan kali ini pengen ke shopping area di sekitar stasiun trem Homme de Ver, tapi kami berubah pikiran dan turun di stasiun kereta Gare Centrale. Stasiun ini nyambung dengan stasiun utama Strasbourg dimana kereta antar kota / antar negara lewat.

Eh ternyata stasiun keretanya keren. Suka! Dari situ kami jalan kaki balik ke arah Petite France, mampir di Carrefour untuk belanja makanan buat makan malam dan perjalanan besok.

Atas : Bagian dalam stasiun  Gare Strasbourg dan gereja cakep deket stasiun Galia
Bawah : Kantor Parlemen Eropa dan stasiun Gare Strasbourg

Day 2 : Alsace Wine Route

Pagi ini kami memulai perjalanan menyusuri Alsace Wine Route yang sangat populer itu, rasanya tidak sabar untuk segera mengunjungi desa-desa cantik di antara kebun anggur. 


Obernai

Obernai adalah kota pertama yang kami singgahi. Sebelum memasuki kota ini kami melewati area ladang gandum yang baru selesai panen, warnanya kuning berkilauan di bawah sinar matahari pagi. Berdiri disini serasa berada di atas di karpet emas. Baguuus banget... beda sama sawah-sawah abis panen di Indonesia.

Sesudah parkir kami segera mencari kantor tourist info untuk mendapatkan peta gratis. Ternyata petanya harus beli. Males banget. Ngga habis akal gue cari brosur2 yang menawarkan tour baik yang jalan kaki maupun yang naik kereta2an semacam odong-odong yang ada peta rutenya. Kamipun memakai peta-peta gratisan tersebut untuk jalan-jalan mengexplore kota ini.


Atas : Rumah 'Half Timbered' yang  berwarna ceria khas Alsace
Bawah : Ladang gandum selesai panen dan kebun anggur
Ngga sampai satu jam kami sudah selesai muterin kota ini. Ternyata pusat keramaiannya ada di sekitar Place du Marche (dekat tourism office) disitu ada sebuah lapangan yang dikelilingi bangunan half-timbered berwarna warni. Jalan-jalan di sekitar situ ramai oleh turis. Banyak restoran dan toko souvenir. Karena hari itu panas banget dan kami males ngadem di cafe atau restoran dikarenakan harganya yang tidak bersahabat dengan standar turis yang bergaji rupiah, kamipun cari toko roti, beli sandwich dan segera naik mobil ke atas bukit.

Kami penasaran dengan sebuah salib raksasa di atas bukit yang terlihat dari segala penjuru Obernai. Sesudah kami sampai disana ternyata salib tersebut adalah monumen untuk mengenang jasa warga Obernai yang gugur di masa perang. Dari sini kami bisa memandang kota Obernai dari ketinggian dan jalan-jalan diantara kebun anggur. Tapi berhubung panasnya ngga kira-kira maka kami ngga lama-lama di sini, selesai makan sandwich, foto-foto, langsung cabut lagi menuju tujuan selanjutnya. 

Haut-Koenigsbourg castle


Alsace di masa lalu merupakan medan perang antara kerajaan-kerajaan maupun antara Perancis dan Jerman, Karena itu tidak heran kalau selama perjalanan kami melihat ada banyak benteng megah di atas bukit. 

Didasari rasa ingin tahu maka kami putuskan untuk mengunjungi salah satunya. Dan terpilihlah benteng Haut-Koenigsbourg yang lokasinya di Orschwiller ngga jauh dari Obernai.

Benteng ini berdiri di atas bukit dengan pemandangan yang indah. Bentuknya cantik mirip kastil negeri dongeng. Ruangan-ruangannya berisi perabotan kuno dan senjata-senjata sehingga kita mendapatkan gambaran mengenai kehidupan di dalam benteng di masa lalu. Benteng cantik ini sempat lama jadi reruntuhan dan terabaikan. Sampai sekarang proses restorasinya masih berlangsung.

Ternyata bukan kami saja yang tertarik untuk mengunjungi benteng ini karena saat itu benteng ini rame banget sama turis, kebanyakan adalah keluarga-keluarga bule dan rombongan tour Jepang dan Tiongkok sehingga parkirnya pun panjaaang banget. Jalan kaki dari tempat parkir sampe ke benteng udah kayak hiking trip tersendiri.
Atas : Pemandangan dari jendela benteng dan Pintu masuk benteng
Bawah : Benteng terlihat dari depan dan salah satu meriam di dalam benteng
Ribeauville
Selesai dari benteng kami masih ada waktu untuk mengunjungi satu kota lagi. Dan kami putuskan kota tersebut adalah Ribeauville. Berbeda dengan Strasbourg dan Obernai, untuk masuk kota ini kami melewati kebun anggur di kiri kanan jalan, bener-bener terasa 'Wine Route'-nya. Tempat wisata yang kami tuju adalah Grand Rue.

Seperti biasa kami mampir ke tourist info untuk mengambil peta gratis.Sebenarnya jalan di Grand Rue ngga butuh peta karena jalannya lurus doang, tapi peta yang kami dapat ini bermanfaat sekali karena mencantumkan info menarik tentang bangunan penting di sepanjang jalan.
Seperti juga di kota lainnya di Alsace, bangunan kuno disini dijadikan toko-toko dan penginapan. Bedanya, di Ribeauville ini bangunannya lebih padat, penuh dekorasi dan lebih banyak bangau bersarang di cerobong-cerobong asapnya. Di ujung Grand Rue ada kebun anggur dilatarbelakangi bukit menjulang dengan sebuah benteng di atasnya. Dari situ kamipun putar balik.
Suasana Grand Rue dan kebun anggur sejauh mata memandang
Dan ternyata, hari itu 'heat wave' sedang melanda Eropa. Semua kota mencapai temperatur terpanas pol-nya. Gue aja yang hidup di negara tropis ngga kuat saking teriknya. Kami sempat dua kali duduk-duduk istirahat. Yang pertama di sebuah cafe, gue minum wine manis khas Alsace bernama Gewurztraminer dan yang kedua sebelum pulang, kami duduk-duduk makan es krim di depan sebuah air mancur di samping kantor tourist info.

Jadi air mancur ini adalah sejenis pancuran kuno dengan patung seseorang di tengah-tengahnya dan airnya jatuh di kolam bulat setinggi perut orang dewasa, airnya dingin dan menyegarkan di hari yang super sumuk begini sehingga banyak turis mampir untuk sekedar cuci tangan atau cuci muka di air kolam tersebut. Lalu kami juga melihat ada waiter dari resto-resto sekitar situ mencuci lap kotor, trus ada juga orang yang membersihkan hidung mampet. Dan airnya dipake cuci muka lagi sama orang lewat.. hahaha.... sejak itu gue ngga tertarik sama kolam pancuran semacam gitu.


Day 3Colmar

Jika dibandingkan dengan Colmar, maka Obernai dan Ribeauville adalah desa kecil saja. Colmar mungkin sama besarnya dengan Strasbourg.

Karena ini sudah hari ketiga kami di Alsace maka kota ini walaupun ngga kalah cantik dan menyenangkan tapi sudah ngga terlalu membuat gue antusias. Yang kami tuju disini malah sebuah bangunan bernama Market Hall, tujuannya adalah untuk cari makanan lokal yang menarik. Ternyata yang dijual disini lebih ke barang kebutuhan sehari-hari dan jadi tempat belanjanya warga lokal. Dan gue menemukan penjual makanan Vietnam, lalu pesan Pho Bo. Rasanya sih lumayan cuma temen gue kayaknya ngga cocok trus malah sakit perut, abis itu kami jadi agak repot cari toilet. Pengalaman buruk.

Colmar terkenal karena merupakan kampung halaman Bartholdi, pembuat patung Liberty. Rumah kelahirannya dijadikan museum. Kita juga akan melihat ada replika patung liberty sebelum memasuki kota ini. Ya kalo di Indonesia semacam tugu selamat datang yang biasanya dilengkapi dengan baliho foto bupati pake seragam, hehehe.


Atas : Suasana Colmar dengan bangunan-bangunan kuno half timbered yang cantik
Bawah : Patung Liberty sebelum memasuki kota Colmar dan suasana di Market Hall

Kesimpulan


Kalo gue harus memilih kota mana yang paling direkomendasikan maka gue akan memilih Ribeauville karena selain areanya ngga terlalu luas sehingga bisa dikunjungi dalam satu hari, bangunan-bangunan kunonya pun lebih cantik karena dihiasi lebih banyak ornamen, lokasinyapun dikelilingi perbukitan penuh kebun anggur dan ada benteng di atas salah satu bukitnya menjadikan kota ini paling lengkap dengan ciri khas Alsace.

Tapi bukan berarti gue ngga suka sama kota yang lain, Strasbourg juga layak dikunjungi karena Cathedral dan Barrack Vaubhannya, Benteng Koenigsburg juga gue rekomendasikan untuk dikunjungi. Sedangkan Obernai menurut gue ngga terlalu istimewa, cenderung boring. Yang membuat gue terkesan dengan Obernai malah pemandangan ladang gandumnya, hehehe...

Tapi secara garis besar Alsace emang cantik banget

Where we stayed :
1. Comfort Inn, Strasbourg (49 Euro/night)
2. F1 Hotel, Colmar (36 Euro/night)

1 komentar:

Sapi Lucu mengatakan...

bagus bangett..seneng deh kalau liat jalan2 di kota2 kecil eropa ..