Jadi, gue ngga ngedumel saat rombongan tour kami (di Beijing) mampir ke tukang obat. Biarpun menurut gue ini cuma ngabisin waktu tapi beginilah resiko ikut tour. Harus pasrah. Kami mampir ke 2 tempat tukang obat. Yang pertama adalah ke sebuah lembaga yang sudah berusia ratusan tahun dan mengklaim dirinya sebagai tempat pengobatan resmi keluarga Kaisar, namanya 'Tong Ren Tang'.
Disini kami diajak masuk ke sebuah ruangan kelas, disuguhi teh yang rasanya enak banget lalu mendengarkan presentasi dari seorang kakek tua (tapi fisiknya sehat dan bugar). Beliau dulunya WNI (lahir dan besar di Solo) yang pindah ke Beijing di tahun 1970-an. Presentasinya dalam bahasa Indonesia dan menarik banget.
| Profesor orang Solo |
Nah, banyak orang yang merasa terjebak disini, karena merasa sudah kebanyakan nanya pas konsultasi jadi ngga enak hati kalau ngga beli obatnya. Terpaksalah mereka membeli, padahal belum tentu dimakan. Untunglah rombongan kami bukan tipe seperti itu, walaupun sudah diperiksa dan diceramahi panjang lebar, kalo emang ngga pengen beli ya bilang aja ngga mau, mohon maap, ngga ada budgetnya.
Kunjungan ke Tong Ren Tang tadi bikin kacau acara makan siang kami. Diagnosis pak profesor mengenai aneka penyakit akibat makanan yang tidak sehat membuat kami jadi pilih-pilih makanan. Nyebelin.
Besoknya, kami mampir lagi ke sebuah toko obat, kali ini tidak ada 'profesor' yang mendiagnosa penyakit, tapi ada presentasi & demo 'batu ajaib' yang kalo kita pegang bisa memperlancar sirkulasi darah. Disini juga dipresentasikan aneka macam penyakit yang diakibatkan pola makan ngga sehat yang ujung-ujungnya jualan obat juga (yang tentu saja ngga murah!). Kekuatiran kami pada kesehatanpun makin menjadi-jadi.
Abis dari toko obat yang kedua ini, kami langsung wanti-wanti ke Tour Guide, cukup sudah kunjungan ke tukang obatnya. Kami terus terang jadi kepikiran sama penyakit-penyakit itu. Mau liburan bukannya enjoy malah stress.
1 komentar:
Haha,nasib anda sama dg grup kami yang baru pulang dari beijing. Profesor solo itu pun sama' sampai ruangannya juga sama. Tukang obat ke 2 jg sama. Walau kami sdh protes tdk mau ke tukang obat ke 2 kami masih dibawa kesana. Belakangan baru saya tahu kalo ternyata agen dan guidenya mendapat komisi dari belanja para turis... jadi ya terima nasib dan pasang muka tebal aja utk tdk beli produk. Cuma krn banyak yg gak tau jadi terjebak hehehe
Posting Komentar