Jumat, Januari 28, 2011

Gilimanuk. Lovina. Ubud (pake bete). Sanur.

Gue sampai di pelabuhan Gilimanuk sekitar jam 4 sore WITA. Informasi yang gue dapat dari milis dan internet, begitu gue keluar dari kapal gue tinggal jalan kaki sedikit akan ketemu bis mangkal. Trus dari situ tinggal cari bis warna merah yang lewat Lovina.

Gue celingukan sambil mengandalkan insting traveler gue, kemanakah gerangan arah terminal bis kira-kira. Akhirnya gue nanya ke petugas. Dan ternyata mereka bilang NGGA ADA KENDARAAN UMUM DISINI. Kalau mau naik bis gue mesti naik OJEK dulu ke terminal Gilimanuk. Ngga bisa jalan kaki.

OMG, masak di pelabuhan utama sebuah pulau yang paling banyak dikunjungi turis ngga ada kendaraan umumnya? Negara apa sih ini?? oh no, negara gue sendiri. Keseringan traveling ke luar negeri, jadi lupa kondisi negara sendiri.

Akhirnya gue terpaksa sewa mobil dari calo seharga Rp 300K ke Lovina. Perjalanan sekitar 3 jam.

LOVINA
 Di Lovina gue menginap di Hotel Angsoka, harga Rp 225K/mlm, ada AC dan air panas tapi ngga ada TV.

Untuk kegiatan esok harinya, gue booking :
1. Tour lumba-lumba seharga Rp 60K/org (via resepsionis hotel).
2. Dive trip ke P. Menjangan di Sunrise Diveshop (tlp.0362-411820) harganya: Rp 400K untuk 2 kali menyelam, dan Rp 250K untuk snorkeling, semua harga sudah termasuk alat, transportasi & makan siang. Berangkat jam 9 pagi.

Nonton lumba-lumba
Patung di pantai Lovina
Besoknya jam 6 pagi gue sudah berdiri di pantai siap berangkat, ngantuk banget. Trus kami naik perahu jukung gabung sama turis lain, total berlima sama tukang perahunya. Pak supir perahu membawa kami ke tengah laut mencari lokasi dimanakah kira-kira lumba-lumba bakal nongol.

Dan sudah pastinya, perahu kami ngga sendirian, ada buanyak perahu lain hilir mudik disitu.. Tiba-tiba ada segerombolan lumba-lumba loncat dari air, lalu semua perahu ngebut ke arah situ. Dan lumba-lumbanya ngilang karena takut sama suara mesin perahu. Lalu muncul lagi di tempat lain. Kejar lagi. Gitu terus. Beruntung, gerombolan lumba-lumbanya sempat muncul dan loncat pas di samping perahu kami beberapa kali. Keren..

Begitu matahari muncul, lumba-lumbanya ngga muncul-muncul lagi. Satu per satu kapalpun kembali ke pantai. Gue balik ke hotel untuk sarapan dan siap-siap ke P. Menjangan. Semangat nih gue mau menyelam.

Diving !!
Gue dan karang kipas khas P. Menjangan

Rombongan gue ternyata orang asing semua, dan yang nyelam CUMA GUE!!. Yang lain snorkeling doang! Wah gue ngga malu-maluin negara ya, di laut kita jaya... Yeah!!

Menyelam di Menjangan adalah cita-cita gue. Ini pertama kali gue menyelam di kontur drop off (jurang). Jadi gue bakal menyelam trus melipir di dinding sedangkan di bawah gue jurang gelap yang dalam.
Dive pertama gue jalani dengan penuh perjuangan, gue harus berenang melawan arus yang super kenceng banget, cape deh. Dive kedua lebih ringan. Selain ngga ada arus, gue cuma menyelam sampe kedalaman 10 meter aja, berhubung gue bawa kamera yang ngga bisa diajak menyelam lebih dari itu.

Ciri khas P. Menjangan adalah karang kipasnya. Gede-gede banget.... Yang bikin gue kagum sampe pusing adalah banyaknya gerombolan ikan kecil-kecil sibuk seliweran, dari atas ke bawah - dari kanan ke kiri, ruwet banget... Udah kayak traffic jam di dalam air.

Hmm... kereeeen deh pokoknya!!

UBUD
Di Ubud gue menginap di Jati Homestay (0361-977701, harga:Rp 250K/malam. Tanpa air panas, tanpa AC, tanpa TV. Damn expensive. Ubud siang itu penuh banget, macet dimana-mana! Gue mau makan di Nuri's aja ngga kesampean, jadinya gue makan di Murni's Restaurant.

Siang sampe sore gue jalan kaki keliling Ubud sampe pegel. Akhirnya nemu tempat massage, pijet deh gue disitu. Dan hujan deraspun mulai turun.

Dengan badan lengket penuh minyak massage, gue jalan kaki hujan-hujanan ke Pura Agung buat nonton Tari Kecak dan atraksi nginjek-nginjek api semacam debus gitu. Hujan makin deres.

[Curhat] Ngga tau kenapa hari itu temen gue manyun terus. Mungkin karena terpengaruh cuaca yang hujan terus atau karena dia lagi dapet atau kesambet jin bali.  Gue usahakan tidak terpengaruh dan  tetap gembira, tapi susah bo' !!  Akhirnya... gue yang (kata orang looh) dikenal sabar dan lucu terpengaruh sama si manyun. Gue BETE...!! Di malam tahun baru! DI BALI pula! Rugi banget ya?!

Countdown malam tahun baru

Karena ngga punya rencana mau malem tahun baruan dimana, akhirnya kami ke banjar desa yang disulap jadi panggung musik reggae. Duduk-duduklah gue disitu sambil minum ngeliatin bule-bule pada joget wagu.  

Diantara para party go-ers itu mungkin guelah yang tampangnya paling lepek dan kucel karena keringetan keliling Ubud, lengket sama minyak, basah kuyup kehujanan dan kedinginan.... . perfect! Lagu reggae mendadak jadi nyebelin.

Gue bersyukur malam itu berakhir juga, setengah ngga percaya tahun 2010 gue akhiri dengan bete begini. Gue berdoa semoga tahun 2011 akan membawa banyak berkat dan keberuntungan baru buat gue.

Perjalanan dilanjutkan ke Sanur.

SANUR
Sunrise di  Sanur
Di Sanur gue menginap di Prima Cottage (Tlp. 0361-286369 dengan harga Rp 390K/mlm - ada AC & air panas, tapi ngga ada TV), ini satu-satunya hotel yang gue dapat sesudah telepon sana sini penuh semua.  Tapi herannya, pantainya sepi banget. Nightlife-nya juga sepi. Pada kemana ya itu turis-turis semua?

Besok paginya gue duduk-duduk di pantai, menikmati matahari terbit, indah banget Sanur pagi ini. Melihat aktivitas orang-orang di pantai pagi itu rasanya menyegarkan... Mood gue pulih lagi.  Puas di pantai, gue balik ke hotel dengan hati gembira dan siap-siap check out. Perjalanan dilanjutkan ke bandara Ngurah Rai untuk terbang ke Ende.

Flores I'm coming!

Tidak ada komentar: