Senin, September 04, 2006

Lost in Hong Kong

Kami meninggalkan Airlines Hotel di Shenzhen dengan subway train menuju stasiun Lowu. Sesudah melewati berbagai antrian di imigrasi Lowu kami tiba juga akhirnya di Hong Kong. Kami membeli tiket kereta ke stasiun Hung Hom untuk bertemu Gordon, orang Hong Kong yang sudah kami telpon dan bersedia menolong kami mendapatkan hotel (baca deh kisah kami di Shenzhen). Ngga lama kami menunggu, akhirnya ketemu juga sama dia, sesudah kenalan dan say hi, dia bilang bahwa dia membawa kabar buruk :......... hotelnya ngga dapet.
Mungkin karena disangkanya kami adalah teman dari sahabatnya maka Gordon menawarkan kami untuk menginap di apartemennya. Waktu belakangan Gordon tahu kalau kami juga baru kenal temannya tadi siangnya dia ketawa ngakak... udah telanjur nawarin...masa mau diusir?. Sebenernya gue agak2 was-was gimanaa gitu nginep di apartemen si Gordon, tapi karena kami bertiga ya pede aja lah..

Begitulah, malam itu kami menginap di tempatnya Gordon. Gordon orangnya seneng ngobrol, sampai jam 2 malem kami masih diajak diskusi tentang masalah politik, ekonomi, sosial, agama.... yah anggap aja kursus bahasa Inggris gratis.

Besoknya, berkat Gordon juga kami bisa check in di
National Guest House. Lokasinya cukup downtown, deket stasiun MTR (kereta bawah tanah) Causeway Bay. Walaupun ruangannya sempit (banget) tapi bersih, ada 3 bed, TV, aircon, hot/cold shower, cukuplah buat kami, harganya 260 HK$ (sekitar Rp 300 rb), asal tau aja tarif hotel di Hong Kong itu kalo dibanding tempat2 sebelumnya, amit-amit mahalnya .

Kami makan siang di Restauran Indonesia, senang sekali akhirnya kami bisa makan secara normal, maksudnya pake nasi dan lauk pauk. Gordon juga nganterin kami ke travel agent utk beli tiket kereta api Hong Kong-Guangzhou buat besoknya. Kami ambil
jadwal yg jam 6 sore.

Ternyata benar kata orang, transportasi di Hong Kong itu gampang banget. Apalagi kalo punya prepaid card yg namanya
Octopus, selain lebih murah bisa digunakan utk bayar segala macam transportasi umum. Kami ngga beli Octopus, cukup tiket MTR aja senilai 50HK$ (kira-kira Rp 60 rb) yang bisa digunakan sepuasnya selama 24 jam, soalnya kalo beli tiket eceran yg sekali jalan jatuhnya mahal banget.
Tapi biarpun transportasinya gampang, kotanya termasuk susah dijelajahi. Gedung-gedungnya rapat dan mirip-mirip. Petunjuk jalannya juga kadang arahnya agak-agak ngga pas. Gue beberapa kali nyasar di Hongkong ini...

Golden Mickey

Dan sore itu kami lanjutkan petualangan ini ke Disneyland. Disneyland di hari minggu penuh banget, gue ketemu banyak orang Indonesia. Sayang kami nyampenya udah sore, jadi antrian di wahana2 (niru istilahnya Dufan) udah panjang banget. Jadi ngga minat ikut antri.

Untungnya kami kebagian nonton bioskop 4D dan kabaret ‘Golden Mickey’, karena show ini hanya ada pada jam tertentu aja. Gue juga seneng banget bisa melihat kembang api pas penutupan jam 9 malam. Menurut gue bagus banget.

Avenue of the Stars

Besoknya kami kedaerah Kowloon,turun di stasiun MTR Tsim Sa Tsui, trus berjalan ke arah Avenue of the Stars. . Disini ada pelataran di tepi laut dimana kita bisa menikmati pemandangan Hong kong Island. Di pelataran ini bisa kita lihat tanda tangan dan tapak tangan artis-artis Hong Kong, ceritanya niru yang di amrik gituloh...



The Peak

Walaupun waktunya sudah mepet kami sempatkan mengunjungi Victoria Peak. Kami menuju Stasiun MTR Central dan dilanjutkan jln dikit ke stasiun trem yg namanya Peak Tram. Trem ini jalannya nanjak ke atas bukit dengan kemiringan yang wooohhooooo.... sereeemm deh pokoknya....

Ini adalah tempat yg ngetop banget di Hong Kong, lokasinya di atas bukit, dari sini kita bisa melihat pemandangan gedung-gedung tinggi dan perahu-perahu yang hilir mudik.

Disana cuma sempet foto sejepret dua jepret langsung turun lagi. Dengan kecepatan tinggi kami balik ke stasiun MTR lagi, menuju ke hotel buat mengambil ransel karena sudah hampir jam 16.30 sedangkan kereta kami berangkat jam 18.00.

foto bareng Gordon
Kami sempatkan pamitan ke Gordon yang ternyata kuatir banget. Soalnya dia sudah wanti-wanti supaya nelpon kalau sudah sampai hotel, atau kalau nyasar supaya dia bisa jemput. Tapi kami lupa.. kami bilang aja : Don’t worry… we survive China. Hehehe…

Lalu kami naik taxi ke Hung Hom railway station utk melanjutkan petualangan kami ke Guangzhou. Kota terakhir... sedih deh, perjalanan ini akan segera berakhir.

1 komentar:

Anonim mengatakan...

huhuhu...