Rabu, Agustus 02, 2006

Bangkok on the weekend

Akhirnya sampai juga di Bangkok, setelah Airasia yang kami tumpangi dari KL delay 1 jam. Gue sempat bengong melihat antrian penumpang di imigrasi airport… ampuun…panjang bener! Padahal jumlah petugasnya udah sekitar 20-an tapi antriannya masih panjang aja. Maklum menjelang weekend.

Keluar dari antrian kami siap-siap ambil tas di ban berjalan. Masak ransel gue kebuka, emang sih ngga ada yang hilang tapi kan bikin gue jadi kesel. Huh!

Belum pulih mood gue gara-gara ransel, gue sudah harus berurusan dengan supir taxi. Gue coba nyetop taxi yang lewat, berharap bisa lebih cepat. Ternyata mereka ngga mau pake meter, terjadilah tawar menawar yang berakhir dengan harga 300 baht ke hotel Centerpoint Petchbury. For next time, sebaiknya antri aja di tempat resmi, minimal ngga bikin bete.

Sesampai di Centerpoint Petchbury barulah gue lega, kamarnya luas dan terawat, keamanannya ketat banget, CCTV ada dimana-mana. Gue pake online booking, selisih harganya lumayan bisa 50% lebih murah dari publish rate.

Malemnya kami ke Siam Paragon, mall baru buka, katanya termegah di Bangkok. Kami naik tuktuk, sama dengan bemo disini tapi dimodifikasi jadi seperti bajaj. Ngga nyangka macetnya gila-gilaan. Yang mengherankan, mobil-mobil dan tuktuk tetap sabar antri ngga ada yang nyerobot dan pencet klakson.

Dari situ lanjut ke Suan Lum Night Bazaar, pasar souvenir yang buka sampai midnight. Hari itu rame banget karena pada nonton bareng World Cup dengan layar gede.

Pagi pertama, kami kunjungan ke Wat Pho temple, tempat patung Budha emas posisi lagi tidur dengan ukuran raksasa, dilanjutkan dengan jalan kaki ke Grand Palace, istana raja.



Karena hari mendung banget, belum selesai keliling istana kami sudah kabur. Kubah emas di Grand palace 'menyala' saat gelapnya mendung.


Derasnya hujan di Bangkok ternyata sadis banget! Gue merasakannya di tuktuk dlm perjalanan ke Khao San Road, tapi gue ngga lihat ada banjir di jalanan. Khao San road terkenal sebagai ibukota kaum backpacker di Asia Tenggara. Suasananya mirip Malioboro Yogya, penuh dengan pedagang kaki lima di trotoarnya dan di kanan kiri ada jalan-jalan sempit dengan budget hostel. Suasana kafe-kafenya seperti di Kuta, banyak bule hang out, nge-bir sambil nonton DVD. Mungkin kalo malam lebih meriah.

Abis itu gue ke MBK, asik banget belanja tas di toko 1 harga yaitu 200 baht (Rp 50 rb). Tapi gue berusaha ngga kalap, tetap kendalikan diri…maklum budget terbatas dan besok masih harus ke Chatucak Market. Dari MBK nyempetin ke Hardrock CafĂ© di seberang jalan, banyak yang nitip kaos soalnya, dan temen gue koleksi gelasnya.

Hari selanjutnya, hari yang gue tunggu-tunggu, ke Chatuchak weekend market. Gue penasaran banget kayak apa sih tempat ini. Pasar ini memang benar-benar luas, terdiri dari (kalo ngga salah) 27 section. Tiap section terdiri dari beberapa los. Menurut gue mustahil untuk melihat semuanya dalam 1 hari. Yang lebih bikin pusing, barang-barang yang dijual ngga dikelompokkan, jadi tiap section menjual jenis barang yang campur aduk. Tapi harganya memang jauh lebih murah dibanding Suan Lum dan MBK, terutama untuk souvenir kerajinan Thailand seperti gantungan kunci, tempelan kulkas, hiasan dinding, asal bisa nawarnya. Oya, tawar menawar di Bangkok ini ngga usah takut-takut, pedagangnya ngga akan marah kok. Gue cuma sanggup keliling dari section 6 sampe 12, mulai jam 9 sampe jam 14. Selain mulai kehabisan baht gue juga udah ngga sanggup jalan dan ditambah hujan deras pula.

Karena luasnya pasar ini kami yang berempat ini terpisah berdua-dua dan rasanya mustahil untuk ketemu lagi mengingat kaki yang udah pegel dan menenteng belanjaan yang berat banget. Jadi pulangnya masing-masing aja, langsung cari taxi balik ke centerpoint.

Kaki pegal langsung pulih begitu kami nyampe hotel. Sorenya lanjut lagi ke Suan Lum untuk belanja yang penghabisan, beli barang-barang yang ngga ada di Chatucak.

Hari terakhir di Bangkok, kami habiskan dengan sarapan di Pratunam, pasar depan hotel yang malah belum tersentuh. Ngobrol-ngobrol ringan ternyata semua merasa belum puas dengan kunjungan ini dan bertekad one day harus balik kesini lagi :-)

Dengan hati yang berat kami menuju airport. Pulang naik Garuda, transit di Singapore. Ternyata naik Garuda malah ngga bisa tidur, bolak-balik ditawarin makan & minum, beda dengan Airasia, gue tidur terus tapi dengan tenggorokan kering :-(

Dan akhirnya tiba juga di Cengkareng. Our trip is over, so sad…belum puas di Bangkok.