Rute kami : Jakarta - Batam - Singapore (nginep 2 malam) - Hanoi (nginep 3 malam) - Singapore (nginep 1 malem) - Batam - Jakarta.
Dari Changi kami terbang dengan Tiger Air
Petugas imigrasi Vietnam ini rada nyeleneh, masak ngasih cap di passport gue di halaman belakang, ngacak banget.
Setiba disana kami makan siang dulu dan dilanjutkan dengan naik kapal kayu, mengunjungi salah satu pulau yang ada gua-nya, lalu lanjut lagi melihat perkampungan terapung. Tempat yang bener-bener cantik. Sayang saat itu sedang hujan jadi fotonya kurang bagus.
Dari Bank kami jalan kaki dengan tujuan Danau Hoan Kiem. Jakarta harus malu lho sama Hanoi, disini pejalan kaki dihargai banget, trotoarnya lega dan teduh oleh pohon-pohon rimbun. Ngga ada tuh pedagang kaki lima di trotoar, padahal kalo dilihat penduduk sini juga sama miskinnya dengan dengan di tempat kita.
Sepanjang jalan banyak yang bisa dilihat : bangunan-bangunan tua yang arsitekturnya gaya Eropa, taman-taman publik, monumen, temple dan danau yang asri.
Lalu lintas di Hanoi ngga bisa dipungkiri jauh lebih kacau dari kota manapun di Indonesia. Motor dan sepeda saling kebut-kebutan dan lampu lalu lintas ngga dipatuhi, satu kata yang bisa menggambarkan : kisruh!!. Masalah utama untuk pejalan kaki adalah bagaimana cara menyebrang jalan, akhirnya kami nekad melangkah sedikit-sedikit supaya pengendara motor bisa menghindari kita, lama-lama jadi terbiasa... Tapi di luar itu, jalan kaki di Hanoi tetap menyenangkan.
Karena Danau Hoan Kiem merupakan pusat keramaian di Hanoi, semua turis pasti disarankan untuk stay di area ini. Sebagai pusat turis, di sini ada banyak toko-toko suvenir, super market, warung bir buat bule nongkrong, warnet & travel agent. Di tengah danau Hoan Kiem ada kuil,untuk menuju kuil ini kita harus melewati jembatan berwarna merah yang fotogenic, jembatan ini jarang kosong semua turis pasti foto disini. Konon kabarnya di danau ini pernah hidup kura-kura raksasa, makanya di tengah danau ada patung kura-kura untuk mengenangnya.
Dari Hoan Kiem temple kami ke pasar grosir Dong Xuan. Disini dijual souvenir khas Vietnam dan barang-barang kebutuhan sehari-hari. Pasarnya luas dan kita bisa puas tawar menawar (ngga ngomong, pake kalkulator aja). Di Hanoi ini ada banyak orang jual topi, entah sedang trend atau memang orang sini harus pake topi karena panas, yang jelas modelnya bagus-bagus... Harga barang di pasar ini paling murah dibanding tempat lain, tapi sama dengan tempat lain di Hanoi, kualitasnya kurang bagus, gue sebenernya suka sama T-Shirtnya, tapi kok tipis banget, jadi beli yang lain aja. Di sini kami makan siang di pinggir jalan.
Di Hanoi kita harus berani coba makanan lokal karena disini belum ada restoran fast food seperti Mc D, Pizza Hut, KFC dll... ngga heran kalo orang-orangnya langsing-langsing bebas lemak. Asal tau aja, cewe Vietnam ini disukai bule-bule karena bentuk badannya yang semampai dan kulitnya yang bersih.
Selanjutnya kami coba naik ojek ke Van Mieu, atau Temple of Literature. Gile bener deh tukang ojeknya ngebut banget! gue sampe merem saking takutnya nabrak. Van Mieu adalah universitas pertama di Vietnam (berdiri tahun 1000 sekian deh). Bangunannya bergaya China. Sorenya kami ke danau Hoan Kiem lagi, kami berhasil menemukan sisi lain yang belum kami lewati sebelumnya, makan malam dan akhirnya tergoda beli T-Shirt juga, walaupun bahannya tipis.
Hari ketiga, hari terakhir. Kami mengunjungi Mausoleum Ho Chi Minh, disini kami bisa melihat jenazahnya Ho Chi Minh yang diawetkan. Top abis, umur jenazah ini lebih tua dari gue. Tapi kenapa juga ya orang-orang komunis suka banget mengawetkan jenazah pimpinannya??
Dari situ kami balik ke hotel, ngambil barang-barang untuk selanjutnya naik taksi ke Airport.
Akhirnya , kami meninggalkan Hanoi. Goodbye deh semua.... lalulintas yang kisruh, keindahan alam, orang-orangnya yang langsing, tulisan dengan huruf yang mlintir-mlintir... sempat bertanya-tanya juga sih dalam hati, will I come back ?...